
Wanita memang sering dianggap lemah oleh kebanyakan orang, mereka menganggap bahwa wanita adalah sosok yang lemah dan membutuhkan pertolongan disetiap ada keadaan yang buruk. akan tetapi, tidak semua wanita itu lemah dan mudah untuk dibodohi oleh siapapun didunia ini, sudah banyak wanita-wanita muslim yang hebat yang membangun bangsa dengan prestasi yang mereka punya dan membuktikan kepada dunia bahwa tidak semua wanita itu lemah, bahwa wanita juga punya hak untuk memimpin dan membuktikan bahwa wanita itu juga bisa.
Wanita muslim sejak lama telah ikut serta meramaikan perpolitikan dunia dan diantaranya banyak yang berhasil menjadi pemimpin di berbagai negara di dunia. Semakin terbukanya kesempatan bagi wanita muslim dalam mengenyam pendidikan lebih tinggi telah mendorong kaum muslimah di seluruh dunia untuk semakin terlibat di bidang politik. Hal ini dapat terlihat dari angka partisipasi perempuan muslim di bidang politik yang semakin meningkat.
Dalam sejarah Islam terdapat banyak kisah kepemimpinan dan peranan wanita. Tokoh muslimah penting diawal peradaban Islam antara lain adalah Siti Khadijah istri pertama Nabi Muhammad. Di dalam hadis sahih dikisahkan bahwa Siti Khadijah adalah penasihat utama Nabi Muhammad dan sekaligus donatur utama dalam seluruh kerja dakwah sang suami.[2] Istri ketiga Nabi Muhammad, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq berperan penting sebagai komandan saat terjadinya peristiwa Perang Jamal di padang Basra, Irak. Lembaga Fatwa Mesir (bahasa Arab: دار الإفتاء المصرية Dar al-Ifta al-Mishriyyah), institusi keagamaan di Mesir yang didirikan untuk mewakili umat Islam dan pusat penelitian hukum Islam, mengeluarkan fatwa untuk membolehkan seorang perempuan untuk menjadi pemimpin dan atau pengadil.
Para ulama banyak berbeda pendapat mengenai
keterlibatan wanita dalam bidang politik. Hal ini terjadi karena masing-masing
ulama memiliki pendapat sendiri dalam menginterpretasikan Alquran, hadis, dan literatur
Islam lainnya. Rumitnya bahasa Arab, perbedaan paham dalam Islam, seperti
perbedaan antara Islam Sunni dan Islam Syiah, dan perbedaan budaya serta
pemahaman di masing-masing wilayah telah membuat perbedaan fatwa dikalangan
para ulama. Tidak ada satupun ayat dalam Alquran ataupun hadis sahih yang
secara gamblang mengharamkan ataupun membolehkan wanita menjadi seorang
pemimpin.
Selain menjadi Kepala Negara dan atau Kepala
pemerintahan, para muslimah di abad modern juga banyak memegang peranan penting
sebagai pimpinan politik di banyak negara di dunia. Kaum wanita muslim ini
banyak yang menjadi kepala daerah, pimpinan partai politik, anggota parlemen,
sekretaris negara, menteri, hingga menjadi seorang wakil presiden. Berikut
tokoh-tokoh politik wanita muslim dibeberapa negara di dunia :
Afganistan
Kubra Nurzai
Kubra Nurzai adalah menteri perempuan pertama di
Afganistan. Konstitusi negara Afganistan tahun 1964 dibawah pemerintahan Raja
Mohammad Zahir Shah untuk pertama kalinya memberikan hak pilih kepada seluruh
wanita di negaranya. Hasil dari kebijakan ini adalah pada pemilihan umum tahun
tersebut tiga orang perempuan terpilih menjadi anggota parlemen Afganistan dan
dua orang perempuan ditunjuk sebagai anggota senat. Kubra Nurzai dipercaya
menjadi Menteri Kesehatan Umum pada tahun 1965 dan kembali ditunjuk pada tahun
1967.
Massouda Jalal
Setelah lulus kuliah kedokteran di Kabul Massouda
Jalal berkarier sebagai seorang dokter hingga tahun 1999 ketika Taliban mulai
berkuasa. Massouda Jalal kemudian beralih menjadi relawan di PBB untuk World
Food Progamme (WFP) pada tahun 1999. Setelah Taliban digulingkan pada tahun
2002 Massouda Jalal adalah salah satu dari 200 orang wanita yang berpartisipasi
dalam loya jirga. Massouda Jalal maju mencalonkan diri sebagai calon presiden
pada tahun 2002, menjadikannya wanita pertama yang menjadi calon presiden.
Massouda Jalal meraih total 171 suara (terbanyak kedua) pada pemilihan presiden
Afganistan dan kalah terhadap lawan politiknya Hamid Karzai.[29] Meskipun kalah
dalam pemilihan presiden, Hamid Karzai menunjuk Massouda Jalal sebagai Menteri
Urusan Wanita dari tahun 2004 hingga 2006.
Azra Jafari
Salah satu dari 200 orang perempuan yang
berpartisipasi pada loya jirga setelah tergulingnya kekuasaan Taliban pada
tahun 2002. Azra Jafari merupakan wali kota perempuan pertama di Afganistan.
Azra Jafari adalah wali kota Nili, sebuah kota kecil di Provinsi Daykundi,
Afganistan.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton
bersanding dengan politisi perempuan Afganistan, Fauzia Koofi di sisi kanan dan
Sima Samar di sebelah kanan.
Fawzia Koofi Pada tahun 2014 Fawzia Koofi menjadi
calon presiden Afganistan setelah beliau terpilih sebagai Wakil Presiden
National Assembly of Afghanistan pada tahun 2005. Fawzia Koofi juga merupakan
perempuan pertama yang memegang jabatan sebagai Wakil Kedua Juru Bicara Parlemen
Afganistan.
Sima Samar
Sima Samar menjabat sebagai Menteri Urusan Wanita dari
tahun 2001 hingga 2003.
Frozan Fana
Frozan Fana pernah maju sebagai calon presiden
Afganistan pada Pemilohan Presiden Afganistan tahun 2009
Shahla Atta
Shahla Atta pernah maju sebagai calon presiden
Afganistan pada Pemilihan Presiden Afganistan tahun 2009.
Lala Shevket
Lala Shevket adalah menteri luar negeri pwanita
pertama di dunia. Latar belakang pendidikan Lala Shevket adalah seorang
profesor dan dokter. Lala Shevket juga tercatat sebagai duta besar wanita
pertama di Azerbaijan pada tahun 1993. Lala menjabat sebagai menteri luar
negeri sejak tahun 1993 hingga 1994. Lala mengundurkan diri dari jabatan
menteri luar negeri karena ketidakpuasaannya terhadap korupsi yang terjadi
dalam lingkaran pemerintahan Azerbaijan. Lala Shevket lalu membangun sebuah
partai politik bernama Partai Azerbaijan Liberal pada tahun 1995. Melalui
partai yang dipimpinnya, Lala sempat mencalonkan diri sebagai presiden.[35]
Pada tanggal 7 Juni 2003 saat kongres Partai Azerbaijan Liberal, Lala Shevket
menyatakan mundur dari pimpinan partai untuk fokus dan memulai kampanyenya
sebagai calon independen. Sebagai akibat dari keputusannya itu Lala kembali
menjadi pelopor dalam tardisi perpolitikan di Azerbaijan yaitu maju dalam bursa
calon presiden melalui jalur independen. Pada pemilihan umum anggota parlemen
tahun 2005, Lala Shevket meraih kemenangan mutlak dengan perolehan suara
terbanyak diantara kandidat lainnya.
Mehriban Aliyeva
Mehriban Aliyeva adalah Wakil Presdiden Azerbaijan
sekaligus berperan sebagai Ibu Negara Azerbaijan. Mehriban juga adalah ketua
Yayasan Heydar Aliyev, pimpinan dari Yayasan Sahabat Budaya Azerbaijan,
Presiden Federasi Senam Azerbaijan, serta duta persahabatan dari UNESCO dan
ISESCO. Pada tahun 1995, Mehriban Aliyeva membangun Yayasan Sahabat Budaya
Azerbaijan. Pada tahun 1996 dengan bantuan keuangan dari Chevron, yayasan ini
menganugerahkan penghargaan seumur hidup kepada enam tokoh Azerbaijan yang
berjasa di bidang kesenian dan kebudayaan. Pada pemilihan umum anggota parlemen
Azerbaijan pada tahun 2005, Mehriban terpilih sebagai menjadi anggota parlemen.
Mehriban Aliyeva juga aktif turun ke masyarakat ketika suaminya Ilham Aliyev
mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2003. Pada tanggal 24 November
2006, Mehriban Aliyeva mendapatkan penghargaan sebagai duta persahabatan dari
ISESCO karena kontribusinya terhadap nasib dan pendidikan bagi anak-anak.
Leyla Yunus
Leyla Yunus adalah aktifis hak asasi manusia yang
berasal dari Azerbaijan. Leyla menjabat sebagai direktur sebuah organisasi hak
asasi manusia bernama Institut Perdamaian dan Demokrasi. Leyla Yunus dikenal
luas karena kiprahnya menolong masyarakat korban pengusiran paksa di Baku.[39]
Leyla Yunus adalah seorang sejarawan dengan disertasi yang berjudul
English-Russian Rivalry on the Caspian Sea and Azerbaijan in the First Part of
the 18th Century. Di akhir masa pemerintahan Uni Soviet, Leyla Yunus adalah
aktifis pro reformasi pada saat itu.
Ganira Pashayeva
Ganira Pashayeva adalah anggota parlemen Azerbaijan.
Semenjak tahun 1998, Ganira berkarier sebagai seorang wartawan, koresponden,
penyunting redaksi, wakil kepala penyunting pada bagian pemberitaan di
perusahaan yang bergerak di bidang media di Azerbaijan. Pada tanggal 6 November
2005 Ganira Pshayeva terpilih sebagai anggota parlemen dari wilayah konstituen
Tovuz. Ganira Pashayeva juga merupakan anggota kerjasama dari Azerbaijan-India,
Azerbaijan-Turki dan Azerbaijan-Jepang dalam parlemen Azerbaijan.
Bahrain
Lateefa Al Gaood
Lateefa Al Gaood adalah perempuan pertama yang
terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Bahrain pada tahun 2006 dan
sekaligus menjadi satu-satunya perempuan yang pernah menjadi anggota Dewan
Perwakilan Bahrain.
Nada Haffadh
Nada Haffadh adalah perempuan pertama yang menjadi
menteri di Bahrain. Nada menduduki posisi sebagai menteri kesehatan pada tahun
2004. Nada Haffadh juga pernah menjadi anggota parlemen.
Khaleda Zia
Terkenal dengan sebutan Battling Begums; Dua orang
perempuan ini bergantian memerintah Bangladesh dari tahun 1991 sebagai perdana
menteri.
Bangladesh merupakan negara dengan populasi muslim
terbesar keempat di dunia. Selama 25 tahun terakhir Bangladesh telah dipimpin
oleh dua orang perdana menteri perempuan secara bergantian.
Sheikh Hasina
Sheikh Hasina atau Hasina Wajed memegang jabatan
sebagai perdana menteri antara tahun 1996-2001 dan 2009-sekarang. Sheikh Hasina
adalah anggota Dewan Pemimpin Dunia Wanita.
Khaleda Zia
Khaleda Zia adalah Perdana Menteri Bangladesh pada
tahun 1991 hingga 1996 dan 2001 hingga 2006. Ketika terpilih menjadi perdana
menteri pada tahun 1991 Khaleda Zia menjadi wanita pertama yang menjabat
sebagai perdana menteri di Bangladesh dan merupakan perempuan muslim pemimpin
negara kedua setelah Benazir Bhutto.[49] Khaleda Zia juga merupakan ketua umum
Partai Nasionalis Bangladesh. Majalah Forbes mencatatkan nama Khaleda Zia
kedalam daftar 100 wanita paling berpengaruh di dunia.
Mesir
Mesir adalah negara dengan populasi pemeluk Islam
terbesar kedelapan dan hampir sepertiga anggota parlemen Mesir adalah
perempuan.
Rawya Ateya
Rawya Ateya dianggap sebagi pelopor pemimipin wanita
di negara mayoritas muslim. Rawya adalah wanita pertama di dunia Arab yang
menjadi anggota parlemen pada tahun 1957.
Indonesia
Megawati Soekarnoputri pernah menjadi kepala negara
sekaligus kepala pemerintahan di negara dengan populasi muslim terbesar di
dunia, Indonesia.
Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi
muslim terbesar di dunia. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia membuat
peraturan mengenai Pendaftaran dan Seleksi Anggota DPR dan DPRD (Provinsi,
Kabupaten/Kota) Nomor 07/2013 dan PKPU No.08/2013. pada peraturan tersebut
disebutkan bahwa Partai Politik harus memenuhi syarat “30% dari jumlah calon
yang diajukan di setiap Dapil adalah Perempuan” dan “menempatkan
sekurang-kurangnya 1 (satu) nama bakal calon perempuan dalam setiap 3 (tiga)
nama bakal calon pada nomor urut yang lebih kecil”, yang bilamana aturan
tersebut tidak dipenuhi maka Partai Politik yang bersangkutan dianggap tidak
memenuhi syarat pengajuan calon legislatif di daerah pemilihan yang
bersangkutan.
Megawati Soekarnoputri
Megawati Soekarnoputri adalah Presiden Republik
Indonesia kelima dan merupakan presiden wanita pertama di Indonesia. Megawati
Soekarnoputri menjabat sebagai presiden antara tahun 2001 hingga 2004. Sebelum
diangkat menjadi presiden, Megawati adalah Wakil Presiden Indonesia mendampingi
Presiden Abdurrahman Wahid.
Ratu Atut Chosiyah
Ratu Atut Chosiyah adalah gubernur wanita pertama di
Indonesia. Atut merupakan mantan Gubernur Provinsi Banten kedua. Atut memegang
jabatan gubernur dari tahun 2005 hingga 2014. Pada 17 Desember 2013, Ratu Atut
Chosiyah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait kasus pengadaan alat kesehatan
di Banten.
Kirgzstan
Roza Otunbayeva
Roza Otunbayeva adalah presiden wanita pertama di
Kirgizstan. Meskipun memimpin di negara berpenduduk mayoritas muslim, Roza
Otunbayeva mengakui dirinya adalah seorang penganut ateisme.
Kosovo
Atifete Jahjaga
Atifete Jahjaga adalah Presiden Kosovo keempat dan
presiden wanita pertama di Kosovo.
Mali
Cissé Mariam Kaïdama Sidibé
Cissé Mariam Kaïdama Sidibé adalah wanita Mali
pertama yang menjabat sebagai perdana menteri. Cissé Mariam Kaïdama Sidibé
menjabat dari tahun 2011 hingga 2012.
Pakistan
Pakistan adalah negara dengan populasi muslim
terbesar kedua di dunia setelah Indonesia.
Fatima Jinnah
Fatima Jinnah adalah saudara perempuan dari Muhammad
Ali Jinnah bapak bangsa Pakistan. Fatimah Jinnah adalah salj satu tokoh yang
memperjuangkan kemerdekaan Pakistan dari India. Fatima Jinnah juga pernah
mencalonkan diri dalam pemilihan presiden. Fatima Jinnah dimakamkan di Mazar-e-Quaid.
Benazir Bhutto
Pada tahun 1982 Benazir Bhutto terpilih menjadi
perempuan pertama di Pakistan yang memimpin sebuah partai politik. Ayahnya,
Zulfiqar Ali Bhutto, adalah pendiri Partai Rakyat Pakistan pada tahun 1968.[63]
Benazir menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan sebanyak dua kali, yaitu pada
tahun 1988-1990 dan 1992-1996. Terpilihnya Benazir sebagai Perdana Menteri
Pakistan menjadi tonggak sejarah bagi perempuan muslim menjadi kepala
pemerintahan di suatu negara. Benazir Bhutto dibunuh pada tahun 2008 saat dia
sedang menjadi kandidat perdana menteri.
Rumania
Sevil Shhaideh
Meskipun kalah, Sevil Shhaideh pernah menjadi calon
Perdana Menteri di Rumania. Sevil Shhaideh adalah tokoh muslim Rumania yang
terkenal diantara lebih dari 80% penduduk Rumania memeluk keyakinan Kristen
Ortodoks sementara populasi muslim di Rumania kurang dari 1%.
Senegal
Mame Madior Boye
Mame Madior Boye adalah Menteri Keadilan Senegal
tahun 2000 dan menjadi perdana menteri dari tahun 2001 sampai 2002. Mame Madior
Boye adalah perempuan Senegal pertama yang menjabat posisi ini.
Aminata Touré
Aminata Touré adalah perdana menteri perempuan kedua
di Senegal. Aminata menjabat dari tahun 2013 hingga 2014.
Siprus
Utara
Sibel Siber
Sibel Siber adalah pejabat sementara Perdana Menteri
Republik Turki Siprus Utara. Sibel Siber memegang jabatan perdana menteri hanya
selama 81 hari.
Turki
Tansu Çiller
Tansu Çiller terpilih menjadi Perdana Menteri Turki
pada tahun 1993. Jika beberapa negara muslim lainnya dipimpin oleh wanita yang
mendapatkan jabatan karena suksesi dari sang ayah, suami, ataupun yang lain,
maka Tansu Çiller meraih kursi perdana menteri berkat usahanya sendiri.
Yordania
Toujan Al-Faisal. Toujan Al-Faisal adalah perempuan
Yordania pertama yang menjadi anggota parlemen pada tahun 1993. Keanggotaan
Toujan Al-Faisal ini mendapat banyak penolakan.
sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Wanita_muslim_yang_menjadi_pemimpin_di_dunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar