Sabtu, 08 Desember 2018

mari kita belajar mengenai:AL-QUR’AN SURAH AL-MUJADILAH, 58: 11 DAN SURAH AL-JUMU’AH, 62: 9-10




Assalamualaikum sahabat semuanya :)
   jadi kali ini kita akan melanjutkan deperti pada tulisan yang sebelumnya yan teman, jadi mari kita mempelajarinya bersama-sama :)
Gambar terkait
A.    AL-QUR’AN SURAH AL-MUJADILAH, 58: 11, TENTANG KEUNGGULAN ORANG YANG BERIMAN DAN BERILMU

1.       Terjemahan ayat
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscahya Allah akan member kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscahya Allah akan meninggikan orang-orang ynag beriman di antara kamu dan oarng-oarng yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Q.S Al-Mujadilah, 58: 11)

2.       Kesimpulan
·         Suruhan untuk memberikan kelapangan kepada orang lain dalam mejelis ilmu, mmajelis zikir, dan segala majelis yang sifatnya mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya.
·         Bila disuruh mengerjakan pekerjaan baik dan diridai Allah, kerjakanlah suruhan itu dengan segera dan cara yang sebaik-baiknya.
·         Penegasan Allah SWT bahwa orang yang beriman, beramal saleh dan berilmu penegtahuan lebih tinggi derajatnya daripada orang yang beriman dan beramal saleh tetapi tidak berilmu pengetahuan.

B.      SURAH AL-JUMU’AH, 62: 9-10, TENTANG DORONGAN AGAR RAJIN BERIBADAH DAN GIAT BEKERJA

1.       Terjemahan ayat
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseur untuk salat pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (ayat 9)

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bersegeralah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (ayat 10)
 (Q.S Al-Jumu’ah, 62: 9-10)

2.       Kesimpulan
·         Seruan terhadap oarng-orang beriman untuk melaksanakan salat jum’at. Agar seruan tersebut dapat dilaksanakan, maka orang-orang beriman wajib meninggalkan segala kegiatan kerjanya, selama melaksankan salat jum’at itu.
·         Apabila salat jum’at sudah selesai dikerjakan, maka umat islam hendaknya melakukan kembali berbagai kegiata kerjanya yang baik diridai Allah. Selama itu umat islam hendaknya senantiasa mengingat Allah (zikrullah)

mari kita belajar mengenai:Al-Qur’an Surah Al-Kafirun(109: 1-6), Surah Yunus(10: 40-41), dan Surah Al-Kahfi(18: 29)

Assalamualaikum teman-teman ;)
   Kali ini kita akan membahas materi mengenai ayat-ayat yang seperti pada judul yaitu:
Hasil gambar untuk gambar tentang al kafirun, surah yunus dan surah al kahfi
A.    AL-QUR’AN SURAH AL-KAFIRUN, 109: 1-6 TENTANG TIDAK ADA TOLERANSI DALAM KEIMANAN DAN PERIBADAHAN.

1.      Bacaan surah Al-Kafirun
1)      Qul yaa ayyuhal kaafiruun
2)      Laa ‘abudu maa ta’buduun
3)      Walaa antum ‘aabidunna maa a’bud
4)      Walaa ana ‘aabidun maa ‘abadttum
5)      Walaa antum ‘aabiduuna maa a’abud
6)      Lakum deenukum wa liya deen

2. Terjemahan surah Al-Kafirun
1)      Katakanlah: “Wahai orang-orang kafir”
2)      Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah
3)      Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4)      Dan aku tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang kamu sembah
5)      Dan aku tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
6)      Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku

3. Sebab turunnya surah Al-Kafirun
·         Penegasan bahwa Tuhan yang disembah (ma’bud) oleh Nabi Muhammad SAW dan umat islam berbeda dengan ma’bud orang-orang kafir.
·         Penolakan dari Nabi Muhammad SAW dan umat islam terhadap kaum kafir untuk mencampuradukan keimanan dan peribadahan yang diajarkan Islam dengan keimanan dan peribadahan yang diajarkan agama kaum kafir yang mengandung kemusyrikan.
4. Penjelasan
Surah Al-Kafirun termasuk surah Makiyah, sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Al-Kafirun artinya orang-orang kafir. Surah ini dinamakan Al-Kafirun, karena menjelaskan sikap Nabi SAW dan umat islam terhadap kaum kafir untuk menyembah tuhan yang mereka sembah.
KESIMPULAN
Pernyataan sikap umat islam terhadap kaum kafir bahwa umat islam tidak menyembah Tuhan yang mereka sembah. Sebagaimana kaum kafir tidak menyembah Tuhan yang umat islam sembah. Selain itu umat islam mengajarkan bahwa tidak ada toleransi dalam hal keimanan dan peribadatan antara umat isalam dengan kaum kafir.


B. AL-QUR’AN SURAH YUNUS, 10: 40-41 TENTANG SIKAP TERHADAP ORANG YANG BERBEDA PENDAPAT

1.       Terjemahan Ayat
“Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an, dan diantarany ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya, Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah! Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku  kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan ”
2.       Kesimpulan
Penegasan Allah SWT bahwa di dunia ini ada orang-orang yang beriman kepada Al-Qua’an dan adapula yang tidak beriman. Allah SWT Maha Mengetahui siapa yang berbuat kebaikan dan siapa yang berbuat kerusakan. Masing-masing orang akan bertanggung jawab setiap perbuatannya.
 
C.    AL-KAHFI, 18: 29 TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA

1.      Terjemahan Ayat
“Dan katakanlah: kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang yang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscahya mereka akan diberikan minum dengan air seperti besi yang mendidih menghancurkan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S Al-Kahfi, 18:29)
2.      Kesimpulan
·         Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, sedangkan yang salah datangnya dari selain Allah SWT.
·         Manusia baik sebagai individu maupun kelompok, memiliki kebebasan penuh untuk menentukan pilihan terhadap agama yang akan dianutnya.

·         Manusia yang memilih agama yang salah yakni yang tidak berasal dari Allah SWT dan mengandung unsur menyekutukan Allah dianggap zalim sedangkan balasan bagi orang zalim adalah neraka.


Rasul itu kekasih Allah SWT

Assalamualaikum teman-teman :)
   Teman mari kita bersama-sama mempelajari materi tenang iman kepada Rasul
Iman kepada Rasul Allah merupakan rukun iman yang ke 4 yang wajib kita percayai dan yakini, dan seperti yang kita ketahui bahwa umat manusia sangat sering melakukan perbuatan dosa sejak ribuan tahun lalu. Rasul diutus oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar, sehingga bisa selamat dunia dan akhirat.
Gambar terkait
A. Pengertian Iman Kepada Rasul Allah
Beriman kepada rasul berarti percaya dan yakin bahwa rasul itu benar-benar utusan Allah SWT yang ditugaskan untuk membimbing umatnya agar menempuh jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah sehingga selamat dunia dan akhirat.
Perbedaan Nabi dan Rasul
Rasul adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu yang diberi Allah untuk umatnya. Sedangkan, Nabi adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri tetapi tidak wajib menyampaikannya kepada umatnya. Sehingga seorang rasul pasti adalah nabi, tetapi nabi belum tentu rasul.
B. Nama-Nama 25 Nabi dan Sifatnya
1. Adam As     6. Ibrahim As  11. Yusuf As       16. ZulkiFli As             21. Yunus As
2. Idris As       7. Luth As       12. Ayub As       17. Daud As                  22. Zakaria As
3. Nuh As        8. Ismail As     13. Syu’aib As   18. Sulaiman As          23. Yahya As
4. Hud As       9. Ishaq As      14. Musa As        19. Ilyas As                 24. Isa As
5. Sholeh As    10. Yaqub As  15. Harun As      20. Ilyasa As                25. Muhammad Saw
Rasul Allah mempunyai sifat yang sangat terpuji dan terhindar dari sifat tercela, sifat ini biasa disebut sifat wajib rasul. Sedangkan sifat tercela yang tidak mungkin dimiliki oleh para Rasul disebut sifat mustahil rasul.
Sifat wajib Rasul antara lain:
Sidiq          : berkata benar
Amanah     : dapat dipercaya
Tabligh      :  menyampaikan
Fathonah   :  cerdik,pandai
Sedang sifat mustahil Rasul yaitu:
Kizib        :  berkata bohong
Khianah   :  tidak dapat dipercaya
Kitman     :  menyembunyikan
Baladah    :  bodoh
C. Rasul Ulul Azmi
Rasul ulul azmi adalah utusan Allah yang memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalah kepada umatnya.
Ternyata 5 rasul yang diberi gelar ulul azmi, sbb: 
Nabi Nuh As
Nabi Ibrahim As
Nabi Musa As
Nabi Isa As
Nabi Muhammad SAW
D. Tugas Para Rasul
Menyampaikan ajaran agama kepada manusia dan mengajak nya untuk beribadah kepada Allah.
Menjelaskan semua permasalahan agama yang diturunkan oleh Allah.
Membimbing manusia kepada kebaikan dan menjauh dari kejahatan.
Membawa kabar gembira (surga) dan peringatan (neraka)
Memperbaiki kondisi umat manusia
Memberikan teladan yang baik (perkataan dan perbuatan)
Menegakkan syari’at Allah dan mempraktekan nya di tengah-tengah umat manusia
Memperbaiki kesaksian atas umat mereka pada hari kiawat, bahwa rasul telah menyampaikan misi yang diterima dengan jelas.
E. Hikmah diutusnya para Rasul
Mengeluarkan manusia dari kebiasaan menyembah Tuhan selain Allah.
Sebagai suri tauladan yang baik untuk manusia
Untuk menegakkan hujjah atas manusia dengan mengutus para rasul, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah Allah.
Menjelaskan kepada manusia mengenai masalah ghaib yang tidak bisa dicapai oleh akal. (seperti nama-nama dan sifat Allah, berita tentang hari kiamat, dan lainnya).
Memperbaiki, membersihkan, mensucikan jiwa manusia, memperingatkan dari hal yang bisa merusak nya.
F. Fungsi Iman Kepada Rasul Allah SWT
Menambah keimanan kepada Allah dengan mengetahui bahwa rasul benar-benar manusia pilihan Allah.
Mempercayai  tugas yang dibawa oleh Rasul untuk disampaikan kepada umatnya.
Lebih menghormati dan mencintai rasul karena perjuangan nya.
Memperoleh suri teladan yang baik untuk pedoman hidup.
Ingin mengamalkan apa yang disampaikan oleh Rasul Allah

sumber:http://www.yuksinau.id/pengertian-hikmah-fungsi-iman-kepada-rasul/

toleransi dapat mempersatukan kita

Assalamualaikum sahabat semua :)
   jadi kali ini, kita akan membahas materi mengenai toleransi. dimasyarakat kita pasti memiliki teman, tengga yang berbeda bukan baik dari suku maupun keyakinan yang berbeda. mari kita pelajari bersama materi ini ;)

Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antar-individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.
Contoh sikap toleransi secara umum antara lain menghargai pendapat dan/atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong untuk kemanusiaan tanpa memandang suku/ras/agama/kepercayaannya.
Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai penganut agama lain, seperti:
·         Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita;
·         Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun; serta
·         Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama/kepercayaannya.

Toleransi dalam Al-Quran
Toleransi sudah dipaparkan dalam Alquran secara komprehensif, di antaranya bagaimana Tuhan menjelaskan dalam surat Al-Kafirun dari ayat 1 sampai ayat 6. Asbabun-nuzulnya adalah tentang awal permintaan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad bahwa untuk saling menghormati antar-agama, maka pemuka Quraisy meminta supaya nabi menginstruksikan kepada penganut muslim untuk bergiliran penyembahan terhadap dua Tuhan: hari ini menyembah Tuhan Nabi Muhammad dan esok hari menyembah Tuhan kaum Quraisy.[1] Dengan adanya keadilan dalam pelaksanaan ibadah dari kedua agama tersebut, maka menurut pemuka Quraisy akan terjadi toleransi antar-agama. Keputusan ini tentunya ditentang oleh Allah, dengan menurunkan surat Al-Kafirun ayat 1-6.[1] Ternyata dalam agama tidak boleh ada pencampuradukan keyakinan, lapangan toleransi hanya ada di wilayah muamalah. Hal ini bisa dilihat dari rujukan kitab-kitab tafsir, di antaranya Tafisr Al-Maraghi, juz 30 tentang penafsiran surat Al-Kafirun.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Toleransi

Mari mengetahui tentang Khutbah, Tabligh, dan Dakwah


Assalamualaikum sahabat :)
   teman-teman ayo kita bersama-sama untuk mempelajari tentang materi yang akan kita bahas dibawah ini
   Gambar terkait
1.      Pengertian Khutbah, Tablig, dan Dakwah.
Agama Islam dalam menyampaikan ajaran-ajarannya kepada seluruh umatmanusia menggunakan beberapa cara. Yang antara lain melalui khotbah, tablig, dan dakwah. Cara tersebut disesuaikan dengan situasi serta kondisi. Berikut definisi dari beberapa cara yang digunakan untuk menyampaikan agama Islamtersebut yaitu :

a.      Khotbah
Khotbah adalah berpidato pada rangkaian shalat Jumat yang berisi menyampaikan pesan tentang bertakwa kepada Allah SWT. Dengan syarat-syarat tertentu.
b.      Tablig
Menuruy bahasa Arab tablig berarti menyampaikan. Menurut istilah arinya menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT. sebagai ajaran agama agar manusoa beriman kepadanya. Orang yang memiliki keahlian bertablig disebut muballig. Berikut adalah salah satu hadist yang membahas tentang tablig :
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat”(HR Bukhari)

c.       Dakwah
Dakwah dalam bahasa Arab berarti mngajak atau menyeru. Menurut istilah dakwah merupakan  mengajak manusia untuk mengikuti kebenaran berdasarkan Al Quran dan hadist sebagai sumber ajaran Islam agar manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Berikut adalah salah satu hadist yang membahas dakwa :
“Barang siapa yang mengajak orang ke jalan baik, maka akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya.” (HR Muslim).

2.      Pentingnya Khutbah, Tabligh, dan Dakwah
1. Pentingnya Khutbah
Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa khutbah masuk pada aktivitas ibadah. Maka, khutbah tidak mungkin bisa ditinggalkan karena akan membatalkan rangkaian aktivitas ibadah. Contoh, apabila 
alat Jumat tidak ada khutbahnya, alat Jumat tidak sah. Apabila wukuf di arafah tidak ada khutbah nya, wukufnya tidak sah.

Sesungguhnya, khutbah merupakan kesempatan yang sangat besar untuk berdakwah dan membimbing manusia menuju ke-ridha-an Allah Swt. Hal ini jika khutbah dimanfaatkan sebaik-baiknya, dengan menyampaikan materi yang dibutuhkan oleh hadirin menyangkut masalah kehidupannya, dengan ringkas, tidak panjang lebar, dan dengan cara yang menarik serta tidak membosankan. Khutbah memiliki kedudukan yang agung dalam syariat Islam sehingga sepantasnya seorang khatib melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Seorang khathib harus memahami aqidah yang benar sehingga dia tidak sesat dan menyesatkan orang lain. Seorang khatib seharusnya memahami fiqh sehingga mampu membimbing manusia dengan cahaya syariat menuju jalan yang lurus. Seorang khatib harus memperhatikan keadaan masyarakat, kemudian mengingatkan mereka dari penyimpangan-penyimpangan dan mendorong kepada ketaatan. Seorang khathib sepantasnya juga seorang yang 
ālih, mengamalkan ilmunya, tidak melanggar larangan sehingga akan memberikan pengaruh kebaikan kepada para pendengar.

2. Pentingnya Tabligh
Salah satu sifat wajib bagi rasul adalah Tabligh, yakni menyampaikan wahyu dari Allah Swt. kepada umatnya. Semasa Nabi Muhammad saw. masih hidup, seluruh waktunya dihabiskan untuk menyampaikan wahyu kepada umatnya. Setelah Rasulullah saw. wafat, kebiasaan ini dilanjutkan oleh para sahabatnya, para tabi’in (pengikutnya sahabat), dan tabi’it-tabi’in (pengikut pengikutnya sahabat). Setelah mereka semuanya tiada, siapakah yang akan meneruskan kebiasaan menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang sesudahnya? Kita sebagai siswa muslim punya tanggung jawab untuk meneruskan kebiasaan bertabligh tersebut.

Banyak yang menyangka bahwa tugas Tabligh hanyalah tugas alim ulama saja. Hal itu tidak benar. Setiap orang yang mengetahui kemungkaran yang terjadi di hadapannya, ia wajib mencegahnya atau menghentikannya, baik dengan tangannya (kekuasaanya), mulutnya (nasihat), atau dengan hatinya (bahwa ia tidak ikut dalam kemungkaran tersebut). Seseorang tidak mesti menjadi ulama terlebih dulu. Siapa pun yang melihat kemungkaran terjadi di depan matanya, dan ia mampu menghentikannya, ia wajib menghentikannya. Bagi yang mengerti suatu permasalahan agama, ia mesti menyampaikannya kepada yang lain, siapa pun mereka. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.:
Artinya: Dari Abi Said al-Khudri ra. berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya. apabila tidak mampu maka dengan hatinya (tidak mengikuti kemungkaran tersebut), dan itu selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim)

3. Pentingnya Dakwah
Salah satu kewajiban umat Islam adalah berdakwah. Sebagian ulama ada yang menyebut berdakwah itu hukumnya fardhu kifayah (kewajiban kolektif), sebagian lainnya menyatakan fardhu ain. Meski begitu, Rasulullah saw. tetap selalu mengajarkan agar seorang muslim selalu menyeru pada jalan kebaikan dengan cara-cara yang baik.

Setiap dakwah hendaknya bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat dan mendapat ridha dari Allah Swt. Nabi Muhammad saw. mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan.

Rasulullah saw. memulai dakwahnya kepada istri, keluarga, dan teman- teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Rasulullah saw. adalah Kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran), dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia). Ada beberapa metode dakwah yang bisa dilakukan seorang muslim menurut syariat.

3.      Ketentuan Khutbah, Tablig, dan Dakwah
1.        Ketentuan Khotbah Jum’at
a.       Khatib jum’at
Khotbah Jum’at adalah pidato atau ceramah yang wajib dilaksanakan oleh seorang khatib, sebelum salat Jum’at dimulai.
Agar tujuan mulia tersebut tercapai maka, hendaklah khatib Jum’at harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, ini :
-    Mengetahui ajaran Islam, terutama mengenai akidah, ibadah, dan akhlak.
-    Mengetahui berbagai hal tentang khotbah Jum’at, terutama tentang syarat, rukun dan sunah-sunahnya.
-    Dapat membaca hamdalah, syahadat, salawat, Al-Qua’an dan hadist dengan baik dan benar, juga sanggup bebicara di muka umum dengan jelas dan mudah dipahami.
-    Orang yang sudah balig danbertakwa kepada Allah, berakhlak baik, tidak melakukan perbuatan maksiat, dan bukan orang munafik.
-    Orang yang dipandang terhormat, dihormati, dan disegani.

b.       Syarat Khutbah Jum’at
-    Khutbah dimulai pada waktu zuhur (sesudah matahari tergelincir).
-    Khutbah dilakukan dengan dua kali dengan berdiri (jika dimungkinkan).
-    Khatib hendaknya duduk di antara dua khotbah.
-    Khotbah diucapkan dengan suara yang jelas dan keras.
-    Dilakiukan secara berturut-turut sesuai dengan rukunnya.

c.       Rukun Khotbah
-    Mengucapkan hamdalah atau puji-pujian kepada Alllah SWT.
-    Membaca syahadatain, yakni syahadat tauhid dan syahadat rasul. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap khotbah yang tidak ada syahadatnya, adalah seperti tangan yang terpotong.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)
-    Membaca salawat atas Nabi Muhammad SAW.
-    Berwasiat atau member nasihat tentang takwa dan menyampaikan ajaran tentang akidah, ibadah, akhlak dan muamalah yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadist.
-    Membaca ayat Al-Qur’an pada salah satu dari dua khotbah. Rasulullah bersabdah yang artinya:
“Dari Jabir bin Samurah, katanya, “Rasulullah SAW berkhotbah berdiri, duduk antara keduanya, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, mengingatkan dan memperingatkan kabar takut pada manusia.” (H.R. Muslim)
-    Berdoa pada khotbah kedua agar kaum muslimin memperoleh ampunan dosa dan rahmat Allah SWT.

d.       Sunah Khotbah Jum’at
-    Khatib hendaknya berdiri diatas mimbar atau di tempat yang lebih tinggi dan letak mimbar berada di sebelah kanan tempat berdirinya Imam salat.
-    Khatib hendaknya mengawali khotbahnya dengan member salam. Setelah itu, duduk sebentar sambil mendengarkan mu’azzin berazan.
-    Khotbah hendaknya jelas, mudah dipahami, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek.
-    Khatib, di dalam khotbahnya hendaknya menghadap kepada para jamaah salat Jum’at dan jangan berputar-putar karena yang demikian itu tidak disyariatkan.
-    Menertibkan tiga rukun yaitu puji-pujian, salawat, dan nasihat agar bertakwa.
-    Mambaxa surah Al-Ikhlas, sewaktu duduk dua khotbah.

2.       Ketentuan Tablig dan Dakwah
a.       Tablig dan dakwah hendaknya dimulai dari diri mubalig dan da’i itu sendiri, sebab sebelum seorang mubalig atau da’I mengajak orang lain untuk berimandan bertakwa, maka terlebih dahulu mubalig dan atau da’i menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah SWT, yang artinya:    “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan ap-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Q.S. As-Saff, 61:3)
b.       Dalam bertablig atau berdakwah, mubalig, atau da’i hendaknya menggunakan pola kebijaksanaan, yaitu berbicara atau bertablig kepada manusia menurut kadar kemampuan akal mereka. Tablig atau dakwah kepada kaum intelek yang kadar keilmuannya sudah tinggiharus dibedakan dengan tablig atau dakwah terhadap orang kebanyakan, kadar keilmuannya masih rendah.
c.       Dakwah dapat dilakukan dengan “bi al-hal” yaitu melalui perbuatan baik diridai oleh Allah SWT agar diteladani orang lain.
d.       Dakwah dapat dilaksanakan melalui ucapan lisan dan tulisan, baik perorangan ataupun kepada masyarakat.
Dalam berdakwa pastinya dilakukan dengan berbagai metode  dimana  telah dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran dalam surah An-Nahl, 16:125 yaitu :
-    Metode al-hikmah yang artinya penyampaian dakwah terlebih dahulu  mengetahui tujuan dan sasaran dakwahnya.
-    Metode al-mau’izah al-hasanah yakni member kepuasan kepada orang atau masyarakat yang menjadi sasaran dakwah dengan cara seperti ini member nasihat, pengajaran dan teladan yang baik.
-    Metode “mujadalah bi al-lati hiya ahsan” ialah bertukar pikiran (berdiskusi) dengan cara-cara yang terbaik. Metode ini digunakan bagi sasaran dakwah tertentu, misalnya bagi orang-orang yang berpikir kritis dan kaum terpelajar.
Akan tetapi pada erang yang  serbah canggih ini, sekarang dakwah dapat disampaikan melalui media surat kabar, majalah, radio dan televisi.


Bagaimana sih peranan kita dibumi?

Assalamualaikum teman-teman :)
Hasil gambar untuk gambar peranan manusia di bumi


pertama-tama yaitu Manusia harus percaya dan menerima atau beriman kepada Allah ta’alaa yang mencipta, memelihara, berkuasa, dan juga yang patut disembah. Percaya kepada Allah hingga menjauhi dari perbuatan syirik dengan menyekutukanNYA dengan berbagai makhluk seperti syetan, berhala, hawa nafsu, dan berbagai kepercayaan selain kepada Allah Subhanahu wata’alaa. Juga harus menerima bahwa Allah memiliki hamba yang sangat perkasa sentiasa ta’at kepada Allah yaitu para malaikat yang melaksanakan perintah-perintah Allah untuk menguruskan segala penciptaan-Nya. Demikian juga kita hendaknya menerima, mempercayai bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para Rasul untuk dijadikan pedoman hidup manusia dalam menjalankan tugas dan perananannya dibumi dan percaya/yakin bahwa Alquran adalah kitab terakhir dan juga penyempurna kepada kitab-kitab lainnya untuk dijadikan kewajiban dalam pegangan umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam. Kita juga wajib percaya kepada para Rasul sebagai utusan Allah yang menerima dan menyampaikan wahyu dari Allah ta’alaa, dan melaksanakan atau memprojeksikan serta mem beri contoh teladan kepada umatnya, sehingga kita percaya kepada Rasul itu harus mengikuti sunnah-sunnah nya, kita juga mesti percaya kepada hari pembalasan yaitu adanya hisab, surge dan neraka sehingga kita dengan kepercayaan itu melahirkan sifat taqwa karena kepercayaan kepada Allah juga kita yakin terhadap pembalasan yang akan diberikanNya. Demikian juga kita harus percaya dengan qodho dan qodar yaitu percaya bahwa segala sesuatu itu diciptakan Allah mempunyai sifat-sifat tertentu dnegan ketentuan tertentu. Yang ditetapkan oleh Allah sejak dari misalnya Api Panas, Air mengalir, udara mengandung oksigen, makanan mempunyai zat-zat yang dibutuhkan oleh manusia, manusia dan hewan memiliki panca indra itu semua adalah ketentuan Allah yang tetap dan ia dipanggil dengan qodar, adapun sesuatu yang terjadi akibat qodar tadi seperti misalnya, Api dapat menimbulkan kebakaran tetapi juga bias digunakan memmasak, air dapat mengakibatkan banjir atau juga bias digunakan untuk keperluan manusia pada saat itu terjadi dinamakan qodho atau keputusan. Jadi qadar adalah ketentuan dasar dari segala penciptaan Allah, Allah Berfirman :”inna khalaqna kulla syai’in biqodarin”. Sedangkan qadha mememrlukan sebab dan akibat daripada ikhtiar manusia, seperti misalnya kalau manusia tidak menguruskan hujan turun dengan pengairan yang teratur maka qodhonya akan menjadi banjir, juga ketika menggunakan api tidak cermat dia tidak dapat menyebabkan kebakaran. Ada juga qadha yang diluar jangkauan ikhtiar inilah iradah Allah sebagai ujian kepada manusia, seperti misalnya kejadian tabrakan padahal kita sudah sangat berhati-hati dalam memelihara mobil dan mengendarainya.
Segala kepercayaan dan keimanan ini, mesti dikaji dan diyakini juga dihayati dalam hati manusia. Jadi iman adalah pekerjaan hati.

– Tugas kedua adalah Ibadah. Allah menjadikan jin dan manusia selain dari para malaikat adalah bertugas menjadi hamba Allah. Tugas ibadah ini, ada yang bersifat khusus inilah yang banyak difahami oleh ummat islam yaitu menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan berhaji bagi yang mampu dengan kata lain dikenal sebagai Rukun Islam yang wajib dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan yang ketat. Sperti misalnya shalat mestilah tepat dengan apa yang dicontohkan Rasulullah, sabda Rasul :”sholluu kamaa roaitumunii ushollii”

– Tugas yang ketiga adalah berakhlak mulia. Nabi menegaskan bahwa tugas beliau yang pertama adalah untuk menyempurnakan kesempurnaan akhlak yang mulia. Sebagaimana Sabda nabi “innamaa bu’istu liutammi maa kaarimal-akhlak” Kalo kita teliti bahwa akhlak adalah perilaku atau etika manusia yang memiliki drajat kemanusiaan yang lahir dari pada keimanan terhadap rukun-rukun Iman, maka akhlak adalah keseluruhan perilaku kita terhadap Allah sebagai maha pencipta, terhadap malaikat yang ta’at kepada Allah ta’alaa, terhadap kitab sebagai pedoman Allah, terhadap rasul yang wajib kita ikuti kepemimpinannya, dan kita juga wajib percaya terhadap hari kiamat sehingga kita akan menjaga kita dalam melakukan perkara yang baik ataupun buruk, begitupun juga kita yakin dengan qadar bahwa ikhtiar segala sesuatu sebenarnya telah diatur oleh Allah.
Oleh karena itu Akhlak terhadap Allah hendaklah kita menjalankan peranan sebagai khalifah dan sebagai hamba. Percaya kepada malaikat kita harus merasakan bahwa malikat itu senantiasa menjalankan perintah Allah setiap waktu, seperti misalnya malaikat rokib dan atid yang mencatata perbuatan baik dan buruk, dia tidak pernah menyimpan segala perbuatan manusia untuk dijadikan bukti otentik dalam peradilan Allah, begitu juga akhlak terhadap kitab kita mestilah mencintai, mempelajari, memahami dan mengamalkan apa yang di firmankan Allah dalam kitab itu secara lebih rinci dan teliti. Akhlak terhadap Rasululloh kita mestilah mengikut contoh didalam ketaatan kepada Allah dengan pedoman kitab-Nya, Rasululloh adalah model yang kita harus menjadikan pola hidup dalam melaksanakan pola ketaatan kepada Allah ta’alaa.

– Tugas ke empat adalah menjalankan kehidupan sehari-hari dengan niat karena Allah, menjalankannya dengan mematuhi peraturan Allah (Syari’ah) dan bertujuan mencari keredhaan Allah. Sebagai contoh setiap hari kita makan. Seorang Muslim hendaklah kita makan dengan niat karena Allah, yaitu didalam hati kita meyakini bahwa sumber makanan itu datangnya dari Allah dan Allah mengijinkan kita makan sebagai Rezeki dariNya. Ucapkanlah bismillahirrahmaanirrahiim dan berdo’a kemudian kita pastikan yang kita makan itu halaldan baik untuk kesehatan jita agar kita mendapat ridha Allah serta berkahNya.
Demikian segala pekrejaan dilakukan dengan tata tertib seperti itu. kita mau membaca, menulis bekerja ditempat kerja guna mencari nafkah, bekerja dirumah tangga untuk menyediakan segala keperluan keluarga, jika kita niat karena Allah yaitu mencari keridhaan Allah, sedangkan Allah mengijinkan, kemudian mengucapkan bismillah dan mematuhi hukum halal-haram maka Allah menyediakan pahala yang besar sebagai amal shaleh dan dzikir yaitu senantiasa mengingat Allah dalam segala keadaan. Termasuk ketika kita duduk beristirahat atau menunggu giliran / antrian bacalah dzikir Subhanallahal’adziim, Subahanallah wa bihamdihi akan memenuhi lagit dan buminya.
Memilih karieer dalam bidang profesionallebih selaras dengan tujuan sebagai khalifah. Sebagai mendakwah, guru, doktor, insinyur, petani, pedagang, industri dan juga pemimpin yang diniatkan untuk beramal saleh akan mendapat pahala  yang sangat besar derajatnya, paling tinggi disyurga, beserta para penerima Anugerah terbesar disisi Allah Subahanahu wata’alaa.

Kesimpulannya, hidup kita ini dituntut untuk beriman dan beramal soleh serta saling mansihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran. Firman Allah “Demi Masa, Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beramal soleh serta saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihari dengan kesabaran.


Apa sih Husnuzzan itu?

Assalamualaikum teman :)

    kali ini kita akan membahas apa sih itu materi Husnuzzan? jadii ayo kita pelakjari materi ini bersama-sama

A. PENGERTIAN HUSNUDZAN

Husnudzan secara bahasa berarti prasangka baik. Husnudzan berasal dari kata 'husnu' yang artinya baik, dan 'zan' artinya prasangka. Lawan katanya adalah 'suudzan' yang berarti berburuk sangka.Husnudzan adalah sikap mental dan cara pandang seseorang yang membuatnya melihat sesuatu secara positif. Seseorang yang memiliki sikap Husnudzan akan mempertimbangkan sesuatu dengan pikiran jernih.

Sebaliknya, seseorang yang pikirangnnya yang senantiasa dijejali oleh sikap suudzan akan memandang sesuatu selalu jelek. Seolah-olah tidak ada sedikitpun kebaikan dalam pandangannya. Pikirannya telah dijejali oleh sikap yang menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Perhatikan Firman Allah SWT yang artinya sebagai berikut!

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang mengunjing sebagian yang lain. Apakah ada sebagian kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan  bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat Lagi Maha Penyayang."
(Q.S. Al-Hujuraat/49:12) 

B. MACAM-MACAM HUSNUDZAN

Secara garis besar Husnudzan dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu husnudzan kepada Allah SWT, husnudzan kepada diri sendiri, dan husnudzan kepada manusia.

1.      Husnudzan kepada Allah SWT

Husnudzan kepada Allah SWT, berarati selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Jika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT maka buruklah prasangka Allah SWT pada orang tersebut. Pada hakikatnya, apapun yang kita alami terhadap cobaan yang diberikan Allah SWT, kita harus berbaik sangka. Karena semakin sayang Allah SWT kepada hambanya, maka semakin besar pula cobaan yang diberikan oleh Allah SWT. Perilaku husnudzan kepada Allah SWT adalah perilaku syukur dan sabar.                                                                                

2.      Husnudzan kepada diri sendiri 

Husnudzan terhadap diri sendiri berarti berprasangka baik kepada diri sendiri. Menerima apa adanya serta berbaik sangka kepada Allah SWT tidak menyesali keadaan dan keberadaannya. Adanya berbagai cobaan misalnya, miskin, cacat, sakit, dan sebagainya kita harus tetap bersuyukur kepada Allah SWT yang telah mencipkan sebaik-baiknya makhluk. Sikap yang menunjukkan husnudzan kepada diri sendiri antara lain gigih, berinisiatif, dan rela berkorban.                                                                                                                 

3.      Husnudzan terhadap sesama manusia 

Husnudzan kepada sesama manusia adalah sikap yang selalu berpikir dan berprasangka baik kepada sesama manusia. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif, dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas. Berprasangka baik terhadap sesama manusia hukumnya mubah/jaiz/boleh.
Husnudzan terhadap sesama baik berupa sikap, ucapan, dan perbuatan yang hendaknya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut.

o    Tidak iri hati terhadap nikmat Allah SWT yang diterima orang lain.
o    Tidak berprasangka buruk kepada orang lain.
o    Bekerja sama dengan orang lain dalam hal kebaikan.


C. MEMBIASAKAN PERILAKU HUSNUDZAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI 

Sebagai orang yang beriman dan bertakwa, hendaknya kita membiasakan diri berprilaku husnudzan baik kepada Allah SWT, diri sendiri, dan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku husnudzan dapat ditunjukkan oleh setiap muslim sebagai berikut.

  1. Menunjukkan sifat husnudzan kepada Allah SWT

·         Senantiasa taat kepada Allah SWT.
·         Bersyukur apabila mendapat kenikmatan .
·         bersabar ketika mendapat ujian/cobaan.
·         Yakin bahwa dibalik penderitaan dan kegagalan selalu ada kebahagiaan.

  2. Menunjukkan sifat husnudzan kepada diri sendiri

·         Memiliki semangat juang tinggi.
·         Selalu tampil penuh percaya diri. 
·         Bersifat sportif dan obyektif.

  3. Menunjukkan sifat husnudzan kepada sesama manusia

·         Berjiwa besar dalam menerima kegagalan.
·         Bersikap tidak menyalahkan orang lain dalam menerima kekalahan atau musibah.
·         Bersikap proaktif dan kooperatif dalam hal kebaikan.

D. MANFAAT DAN HIKMAH SIKAP HUSNUDZAN

  1. Manfaat Perilaku Husnudzan

·         Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi sumber kebahagiaan karena didasari ketulusan.
·         Terhindar dari penyesalan dalam hubungan antar sesama.
·         Selalu merasa senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.
·         Timbulnya ketenangan dan ketentraman dalam hidup.

  2. Hikmah Berperilaku Husnudzan

·         Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT.
·         Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya.
·         menumbuhkan sikap sabar dan tawakal.
·         Menumbuhkan keinginan untuk mendapat anugerah dan rahmat Allah SWT dengan cara ikhtiar dan berusaha.

mari kita belajar mengenai:AL-QUR’AN SURAH AL-MUJADILAH, 58: 11 DAN SURAH AL-JUMU’AH, 62: 9-10

Assalamualaikum sahabat semuanya :)    jadi kali ini kita akan melanjutkan deperti pada tulisan yang sebelumnya yan teman, jadi mari...