Senin, 27 Februari 2017

Berbusana muslim dan muslimah

Assalamualaikum wr. wb.
Hasil gambar untuk kartun berbusana muslim dan muslimah

 teman-teman marilah kita bersama-sama mengetahui tentang berbusana muslim/muslimah. dan kita disini juga sama-sama belajar :)  

A. Memahami Makna Busana Muslim/Muslimah dan Menutup Aurat

1. Makna Aurat
     Menurut bahasa, aurat berarti malu, aib, dan buruk. Kata aurat berasal dari kata awira yang artinya hilang perasaan. Jika digunakan untuk mata, berarti hilang cahayanya dan lenyap pandangannya. Pada umumnya, kata ini memberi arti yang tidak baik dipandang, memalukan dan mengecewakan. Menurut istilah dalam hukum Islam, aurat adalah batas minimal dari bagian tubuh yang wajib ditutupi karena perintah Allah Swt.



2. Makna Jilbab dan Busana Muslimah
        Secara etimologi,  jilbab adalah sebuah pakaian yang longgar untuk menutup seluruh tubuh perempuan kecuali muka dan kedua telapak tangan. Dalam bahasa Arab, jilbab dikenal dengan istilah khimar, dan bahasa inggris jilbab dikenal dengan istilah veil. Selain kata jilbab untuk menutup bagian dada hingga kepala wanita untuk menutup aurat perempuan, dikenal pula istilah kerudung, jilbab, dan sebagainya.
Pakaian adalah barang yang dipakai (baju, celana, dan sebagainya). Dalam bahasa indonesia, Pakaian juga disebut busana. Jadi, busana musli artinya pakaian yang dipakai oleh perempuan. Pakaian perempuan yang beragama islam disebut busana muslimah. Berdasarkan makna tersebut, busana muslimah dapat diartikan sebagai pakaian wanita islam yang dapat menutup aurat yang diwajibkan agama untuk menutupinya, guna kebaikan wanita itu sendiri serta masyarakat dimana ia berada.
Perintah menutup aurat sesungguhnya adalah perintah Allah Swt. yang dilakukan secara bertahap. Perintah menutup aurat bagi kaum perempuan pertama kali diperintahkan kepada istri-istri Nabi Muhammad saw. agar tidak berbuat seperti kebanyakan perempuan pada waktu itu (Q.S. al-Ahzab/33:32-33). Setelah itu, Allah Swt. memerintahkan kepada istri-istri Nabi saw. agar tidak berhadapan langsung dengan laki-laki yang bukan mahramnya (Q.S al-Ahzab/33:53).

B. Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist tentang perintah Berbusana Muslim/Muslimah
       1. Q.S. al-Ahzab/33:59
          يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
        “ Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupnya jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Swt. Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
2. Q.S An-Nur/24:31
         وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  
          “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat-nya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.
3. Hadist dari Ummu ‘Atiyyah
           Dari Ummu ‘Atiyyah , ia berkata, “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Raya Idul Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yng sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah saw, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki hijab?’ Rasulullah saw. menjawab,’Hendaklah saudariya meminjamkan jilbabnya kepadanya.’” (H.R. Muslim)
 

Sabtu, 18 Februari 2017

Asmaul husna

Assalamualaikum wr. wb.


Al-Asma'u Al-Husna terdiri atas dua kata, yaitu asma yang berarti nama-nama dan husna yang berarti baik atau indah. jadi Asmaul Husna dapat diartikan sebagai nama-nama yang baik lagi indah yang hanya dimiliki oleh Allah SWT. Dan kata Asmaul-Husna ini terdapat dalam ayat Alqur'an Q.S Al-A'raf ayat 180, yaitu sebagai berikut:

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٨٠)
180. hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya[586]. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Read more: http://adinawas.com/ayat-quran-tentang-asmaul-husna.html#ixzz4ZgSUTGoI

Adapula Hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yaitu :

Artinya :" Dari Abu Huraira ra. sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah swt. mempunyai sembilan puluh sembilan nama, kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya, maka ia akan masuk surga". (H.R. BUKHARI)

Berdasarkan dari ayat-ayat yang telah disampaikan diatas, kita dapat membaca mengenai Asmaul-Husna. Dan dari yang telah disampaikan kita dapat mengethui bahwa menghafalkan Asmaul-Husna juga harus didampingi dengan cara kita menjaga hafalan yang telah kita lakukan. Selain itu, dengan mengetahui sifat-sifat Allah SWT semoga kita dapat mempelajarinya dan menjadikan nya dalam kehidupan sehari-hari .
Catatan saya mengenai Asmaul-Husna yaitu mengenai al-Asmaul al-Husna: al-karim, al-mu’min, al-wakil, al-matin, al-jami’, al-‘Adl, dan al-Akhir. Mari kita bersama-sama mempelajari mengenai ketujuh Asmaul-Husna yang akan saya sampaikan.
  1. .            Al-Karim

      Secara bahasa, al-karim mempunyai arti yang Mahamulia, Yang Maha Dermawan atau Yang Maha Pemurah. Secara istilah, al-karim diartikan bahwa Alah Swt. Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugerah atau rezekikepada makhluk-Nya. Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Maha Pemberi Nikmat dan keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. Yaitu dalam Q.S. al-infitar ayat 6.
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ


Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.


       Al-Karim dimaknai Maha Pemberi karena Allah Swt. senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya. Manusia tidak boleh berputus asa dari kedermawaan Allah Swt. Manusia yang berharta dan dermawa hendaklah tidak sombong ketika atau jika telah memiliki sifat dermawan karena Allah Swt. tidak meyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi orang diberikan harta yang melimpah oleh Allah Swt. keduanya harus selalu bersyukur karena orang yang miskin pun telah diberikan nikmat selain harta.
      Al-Karim juga dimaknai Yang Maha Pemberi Maaf karena Allah Swt. memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban mereka kepada Allah Swt. kemudian hamba itu akan bertaubat kepada Allah Swt. Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. adalah Yang Maha Pengampun. Dia akan mengampuni seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia tidak meragukan kasih sayang dan kemurahann-Nya.

     Menurut Imam al-Gazali, al-karim adalah Dia yang apabila telah berjanji, menepati janjinya, bila memberi, melampaui batas harapan, tidak perduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak rela bila ada kebutuhan dia memohaon kepada selain kepada-Nya, meminta orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.

2.       Al-Mu’min
     Al-Mu’min secara bahasa berasal dari kata amina yang berati pembenaran, ketenangan hati, dan aman. Allah Swt. al-mu’min artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Dengan begitu, hati manusia menjadi tenang. Kehidupan ini penuh dengan berbagai permasalahan, tantangan dan cobaan. Jika bukan karena Allah Swt. yang meberi rasa aman dalam hati, niscaya kita akan senantiasa gelisah, takut dan cemas. Hal tersebut juga terdapat dalam firman Allah Swt. yaitu dalam Q.S. al-an’am ayat 82.
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
    Ketika kita akan menyeru dan berdoa kepada Allah Swt. dengan nama-Nya al-mu’min, berarti kita memohon diberikan keamanan, dihindarkan dari fitnah, bencana dan siksa. Karena Dialah Yang Maha Memberikan keamanan, Dia yang Maha Pengaman. Dalam nama al-Mu’min terdapat kekuatan yang dahsyat dan luar biasa, Ada pertolongan dan perlindungan, ada jaminan (insurense), dan ada bala bantuan
    Mengamalkan dan meneladani al-Asmaul al-Husna, al-Mu’min, artinya bahwa seseorang yang beriman harus menjadikan orang yang ada disekelilingnyaaman dari gangguanlidah dan tangannya. Berkaitan dengan itu, Rasulullah saw. Bersabda: “Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya, “siapa ya Rasulullah saw?” Rasulullah saw. Menjawab,”Orang yang tetangganyamerasa tidak aman dari gangguannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

3.  Al-Wakil
      Kata ”al-wakil” mengandung arti Maha Mewakili atau Pemelihara. Al-Wakil( Yang Maha Mewakili atau Pemelihara ), yaitu Allah Swt. yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan manusia maupun urusan akhirat. Dia menyelesaikan segala sesuatu yang diserahkan hambanya tanpa membiarkan apa pun terbengkalai. Hal tersebut juga sesuai dengan firman Allah Swt. dalam al-Qur’an yaitu Q.S. az-Zumar ayat 62.
ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.
     Dengan demikian, orang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah Swt. akan memiliki kepastian bahwa semua akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Hal itu, hanya dapat dilakukan oleh hamba yang mengetahui bahwa Allah Swt. yang Mahakuasa, Maha Pengasih adalah satu-satunya yang akan dapat dipercaya oleh para hamba-Nya. Seseorang yang melakukan urusannya dengan sebaik-baiknya dan kemudian akan menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. untuk melakukan karunia-Nya.
      Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Swt. melahirkan sikap tawakal. Tawakal bukan berati mengabaikan sebab-sebab dari suatu kejadian. Berdiam diri dan tidak peduli terhadap sebab itu dan akibatnya adalah sikap malas. Ketawakalan dapat diibaratkan dengan menyadari sebab-akibat. Orang harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Rasulullah saw. bersabda, “Ikatlah untamu dan bertawakallah kepada Allah Swt“. Manusia harus menyadari bahwa semua usahanyaadalah sebuah doa yang aktif dan harapan akan adanya pertolongan-Nya. Allah Swt. berfirman yang artinya.”(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Swt. Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (Q.S. al-an’am/6:102).
     Hamba al-Wakil adalah yang bertawakal kepada Allah Swt. ketika hamba tersebut telah melihat “tangan” Allah Swt. dalam sebab-sebab dan alasan segala sesuatu, dia menyerahkan seluruh hidupnya ditangan al-Wakil.

4.        Al-Matin
      Al-Matin artinya Mahakukuh. Allah Swt. adalah Mahasempurna daam kekuatan dan kekukuhan-Nya. Kekukuhan dalam prinsip sifat-sifat-Nya. Allah Swt. juga Mahakukuh dalam kekuatan-kekuatan-Nya. Oleh karena itu, sifat al-Matin adalah kehebatan perbuatan yang sangat kokoh dari kekuatan yang tiada taranya. Dengan begitu, kekukuhan Allah Swt. yang  memiliki rahmat dan azab terbukti. Ketika Allah Swt. memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya. Tidak ada apa pun yang dapat menghalangi rahmat ini untuk tiba kepada sasarannya. Demikian juga tidak ada kekuatan yang dapat mencegah pembalasan-Nya.
     Kekuatan dan Kekukuhan Allah Swt. tidak terhingga dan tidak terbayangkan oleh manusia yang lemah dan memiliki daya upaya. Jadi, karena kekukuhan-Nya, Allah Swt. tidak terkalahkan dan tidak tergoyahkan. Dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat menundukkan Allah Swt. meskipun seluruh makhluk dibumi ini bekerja sama. Allah Swt berfirman dalam Q.S. az-Zariyat ayat 58.
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ


Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.
      Dengan demikian, akhlak kita terhadap sifat al-Matin adalah dengan beristiqamah (meneguhkan pendirian), beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikkan menyesatkan, terus berusaha dan tidak putus asa serta bekerja sama dengan orang lain sehingga menjadi lebih kuat.                      
5.       Al-Jami’
     Al-Jami’ secara bahasa artinya Yang Maha Mengumpulkan/Menghimpun, yaitu bahwa Allah Swt. Maha Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang terbesar atau terserak. Allah Swt. Maha Mengumpulkan apa saja yang dikehendaki-Nya dan dimana pun Allah Swt. berkehendak.
     Penghimpunan ini ada berbagai macam bentuknya, dia antaranya adalah mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka ragam, termasuk manusia dan lain-lainnya, dipermukaan bumi ini dan kemudian mengumpulkan mereka dipadang mahsyar pada hari kiamat. Seperti firman Allah Swt. yaitu dalam Q.S. Ali Imran ayat 9.
رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ


"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya". Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.
          Allah Swt. akan menghimpun manusia di akhirat kelak sama dengan orang-orang yang satu golongan di dunia. Hal ini bisa dijadikan sebagai barometer, kepada siapa kita berkumpul didunia itulah yang akan menjadi teman kita di akhirat. Walaupun kita berjauhan secara fisik aakan tetapi hati kita terhimpun, di akhirat kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka. Begitupun sebaliknya walaupun kita berdekatan secara fisik akan tetapi hati kita jauh maka kita jugak tidakakan berkumpul dengan mereka.
      Allah Swt. juga akan mengumpulkan di dalam diri seorang hamba ada yang lahir di anggota tubuh dan hakikat batin di dalam hati. Barang siapa yang sempurna ma’rifatnya dan baik tingah lakunya, maka ia disebut juga al-Jami’. Dikatakan bahwa al-Jami’ ialah orang yang tidak padam cahaya ma’rifatnya.

6.     Al-‘Adl
     Al-‘Adl artinya Mahaadil. Keadilan Allah Swt. bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apa pun dan oleh siapa pun. Keadilan Allah Swt. yang Maha Luas. Sehingga tidak mungkin keputusan-Nya itu salah. Seperti firman Allah Swt, yaitu dalam Q.S. Al-An’am ayat 115.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.
    Al-‘Adl berasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Orang yang adil adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan inilah yang menunjukkan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih. Adil juga dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya.
    Allah Swt. dinamai al-‘Adl karena keadilan Allah Swt. adalah sempurna. Dengan demikian semua yang diciptakan dan ditentukan oleh Allah Swt. sudah menunjukkan keadilan yang sempurna. Hanya saja, banyak diantara kita yang tidak menyadari atau tidak mapu menangkap keadilan Allah Swt. terhadap apa yang menimpa makhluk-Nya. Sering kali ketika manusia memandang sesuatu secara sepintas dinilainya buruk, jahat, atau tidak adil, tetapi jika dipandangnya secara luas dan menyeluruh, justru kebalikannya, merupakan suatu keindahan, kebaikan, atau keadilan. Tahi lalat secara sepintas terlihat indah. Begitu juga memotong kaki seseorang (amputasi) terlihat kejam, namun ketika dikaitkan dengan penyakit yang mengharuskannya untuk dipotong, hal tersebut merupakan suatu kebaikan. Disitulah makna keadilan yang tidak gampang menilai.

7.  Al-Akhir
          Al-Akhir artinya Yang Mahaakhir yang tidak ada sesuatu pun setelah Allah Swt. Dia Mahakekal ketika semua telah hancur., Mahakekal dengan kekekalan-Nya. Dapun kekelan makhluk-Nya adalah kekekalan yang terbatas, seperti hal nya kekekalan surga, neraka, dan apa yang ada di dalamnya. Surga adalah makhluk yang Allah Swt. ciptakan dengan ketentuan, kehendak, dan perintah-Nya. Nama ini disebutkan didalam firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Hadid ayat 3.     
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِي
 Dialah yang Awal dan Akhir yang zahir dan yang batin, dan dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

   Allah Swt. berkehendak untuk menetapkan makhluk yang kekal dan yang tidak, namun kekekalan makhluk itu tidak secara zat dan tabi’at. Karena secara tabi’at dan zat, seluruh  makhluk ciptaan Allah Swt. adalah fana(tidak kekal). Sifat kekal dimiliki oleh makhluk, kekekalan yang ada hanya sebatas kekal untuk beberapa masa sesuai dengan ketentuan-Nya.
    Orang yang mengesankan al-Akhir akan menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selain-Nya, tidak ada permintaan kepada selain-Nya, tidak ada permintaan kepada selain-Nya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, jadikanlah akhir kesudahan kita hanya kepada-Nya. Karena sungguh akhir kesudahan hanya kepada Rabb kita, seluruh sebab dan tujuan jalan akan berujung ke haribaan-Nya semata.
     Orang yang mengesankan al-Akhir akan selalu merasa membutuhkan Rabb-nya, ia akan selalu mendasarkan apa yang diperbuatnya kepada apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untuk hamba-Nya, karena ia mengetahui bahwa Allah Swt adalah pemilik segala kehendak, hati dan niat.

mari kita belajar mengenai:AL-QUR’AN SURAH AL-MUJADILAH, 58: 11 DAN SURAH AL-JUMU’AH, 62: 9-10

Assalamualaikum sahabat semuanya :)    jadi kali ini kita akan melanjutkan deperti pada tulisan yang sebelumnya yan teman, jadi mari...